Ada hari-hari ketika kita merasa terlalu sibuk untuk membaca.
Notifikasi berdenting, pesan menumpuk, waktu seolah selalu kekurangan ruang.
Namun entah mengapa, pada suatu malam yang sunyi, kita kembali membuka buku puisi.
Puisi tidak selalu menawarkan jawaban.
Ia tidak menjanjikan solusi.
Tapi ia memberi kita sesuatu yang jauh lebih penting: perasaan dimengerti.
Kadang hanya satu larik pendek:
Aku tidak sedang sedih,
hanya sedang belajar bernapas pelan-pelan.
Dan tiba-tiba kita merasa tidak sendirian.
Di situlah kekuatan sastra bekerja.
Ia tidak memaksa kita berubah, tetapi menemani kita saat dunia terasa terlalu bising.
Kita membaca cerpen bukan karena ingin tahu akhir cerita,
melainkan karena ingin merasakan perjalanan tokohnya —
keraguannya, cintanya, kegagalannya —
yang sering kali terlalu mirip dengan milik kita sendiri.
Blog sastra, pada akhirnya, adalah ruang sunyi yang dibagikan.
Tempat orang-orang asing duduk berdampingan,
membaca kata-kata yang sama,
dan pulang dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
Mungkin itu sebabnya,
seberapa pun cepat hidup bergerak,
kita selalu kembali pada tulisan.
Karena di antara semua hiruk pikuk dunia,
kata-kata masih tahu caranya memeluk.
Tulisan ringan di akhir tahun. Bandung, Desember 2025.

Leave a Reply