Ada jenis kekuatan yang tidak pernah muncul di panggung.
Ia tidak berteriak, tidak memamerkan luka, tidak meminta simpati.
Ia berjalan pelan, sering sendirian, sambil memikul hal-hal yang tak pernah diceritakan.
Mereka bangun pagi dengan wajah biasa saja,
pergi bekerja, menyeduh kopi, membalas pesan, tertawa seperlunya.
Tak ada yang tahu bahwa di dalam kepalanya sedang berlangsung perang kecil
antara harapan dan kelelahan.
Orang-orang seperti ini jarang menjadi tokoh utama dalam cerita besar,
tetapi merekalah yang membuat dunia tetap berjalan.
Malam hari, ketika lampu kamar redup dan kota mulai lengang,
barulah mereka membuka kembali pikiran-pikiran yang sejak siang dikunci rapat.
Bukan untuk mengeluh, hanya untuk memastikan bahwa mereka masih bertahan.
Sastra sering memberi tempat bagi mereka —
tokoh yang tidak sempurna, tidak selalu menang,
tetapi terus melangkah walau takut.
Dan mungkin, tanpa sadar,
kita membaca cerita-cerita itu karena melihat diri kita sendiri di sana:
bukan sebagai pahlawan,
melainkan sebagai manusia yang masih mencoba.
Jika hari ini terasa berat,
ingatlah bahwa bertahan saja sudah termasuk keberanian.
Akhir tahun 2025, di Bandung.

Leave a Reply