Sastra tidak pernah menjanjikan hidup yang lebih mudah.
Ia hanya menawarkan cara yang lebih jujur untuk memahaminya.
Lewat cerita, puisi, dan novel, kita belajar bahwa kegagalan bukan aib,
bahwa rindu tidak selalu berakhir bahagia,
dan bahwa manusia boleh rapuh tanpa harus merasa kalah.
Sastra membuat kita terbiasa dengan luka.
Bukan untuk menikmatinya, tetapi untuk mengenalnya.
Di dalam halaman-halaman buku, kita menemukan tokoh-tokoh yang jatuh, bangkit,
lalu jatuh lagi — dan tetap melanjutkan perjalanan.
Mereka tidak selalu menjadi pemenang,
tetapi mereka selalu menjadi manusia.
Mungkin itulah sebabnya sastra terasa dekat.
Ia tidak berbicara dari menara tinggi,
melainkan duduk di samping kita, mendengarkan tanpa menghakimi.
Pada akhirnya, membaca sastra adalah latihan kecil untuk hidup:
menerima ketidakpastian,
memahami perbedaan,
dan memeluk diri sendiri dengan lebih lembut.
Di dunia yang semakin cepat,
sastra mengajarkan kita satu hal sederhana:
berhenti sejenak,
dan merasa.
Bandung, 2025.

Leave a Reply